Kamis, 09 Maret 2017

Nasehat Imam Syafi'i

 "Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya,cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta"  — Imam As-Syafie "Jika Ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepada ku dengan nilai harga sekeping roti, nescaya aku tidak akan membelinya." (Imam Syafi'e) ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung peritnya kebodohan." (Imam Syafie)  Berapa ramai manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kapannya sedang di tenun. (Imam As-Syafii) Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman, tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang.  (Imam Syafii) Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií) Jangan cintakan orang yang tidak cintakan Allah. Kalau dia boleh meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu - (Imam Syafie) Barang siapa yang menginginkan Husnul Khotimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan Manusia. (Imam As-Syafie) "Pentingnya menyebarkan ilmu agama. (Imam syafie) Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak ، Menjadi mati lalu membusuk." (Imam syafie) "Doa di saat tahajud adalah umpama penah yang tepat mengenai sasaran." (Imam syafie) "Kamu seorang manusia yang dijadikan daripada tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah." (Imam as Syafie) Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia. (Imam syafie) Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”   — (Imam syafie) Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan (Imam syafie)  Sesiapa yang menasihatimu sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Sesiapa yang menasihatimu dikhalayak ramai,ia sebenarnya menghinamu'' (Imam syafie) Empat perkara menguatkan badan 1. makan daging 2. memakai haruman 3. kerap mandi 4. berpakaian dari kapas 4 perkara menajamkan mata 1. duduk mengadap kiblat 2. bercelak sebelum tidur 3. memandang yang hijau 4. berpakaian bersih (Imam syafie) "Dosa-dosa ku kelihatan terlalu besar buatku, tapi setelah kubandingkan dgn keampunanMu, ternyata keampunanMu jauh lebih besar." - (Imam syafie) "Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang angkasapun menjadi sempit" - (Imam syafie) Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.   (Imam syafie) Sebesar-besar aib (keburukan) adalah kamu mengira keburukan org lain sedangkan keburukan itu terdapat dalam diri kamu sendiri - Imam Syafi'e Aku mampu berhujah dgn 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada seorang yg jahil kerana mereka tak tahu akan landasan ilmu. - Imam Syafie  "Andaikan kekurangan diri dijadikan alasan untuk tidak berdakwah, nescaya tiadanya dakwah yang akan berjalan dimuka bumi ini.."[Imam Syafie] " Semakin banyak ilmuku, semakinku insafi diri, bahawa terlalu banyak yang aku tidak ketahui "  - Imam As-Syafie Hati yang dicemari dengan dosa tidak akan dapat menyimpan ilmu yang bermanfaat. -Imam Al-Syafie- Setiap kali ilmu aku bertambah banyak, maka aku bertambah tahu bahawa akulah orang yang jahil. -Imam Syafie Orang yang membuat kesalahan dan berdusta untuk menutupnya bererti membuat dua kesalahan -Imam As Syafie- "Sebelum tidur solat Isya' dan banyakkan istighfar, sebab kita tak tahu mati itu (Imam Syafi'e) "Apabila ajal datang padamu maka tidak sejengkal bumi dan tidak pula sebidang langit yang dapat melindungimu" - Imam As-Syafie Jangan kau berjalan di atas bumi dengan sombong dan bongkak. Kerana sebentar lagi kau akan masuk ke dalam bumi yang kau pijak. (Imam Syafie) Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman. -Imam As Syafie Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati yang lebih keras dari batu. Tetapi, kata-kata yang kasar dapat mengasarkan hati yang lunak seperti sutera -Imam As Syafie "Di antara tanda-tanda benar dalam ukhuwah ialah menerima kritikan teman, menutupi aib teman dan mengampuni kesalahannya." (Imam syafie) "Janganlah kamu melihat akan kejahilan seseorang itu kerana sesungguhnya kejahilan itu ada pada dirimu sendiri. (Imam syafie) "Barangsiapa mempersenda, mempermain, menafikan sunnah Rasulullah dan ayat Kitabullah, maka dia kafir serta-merta" (Imam syafie) Jangan kalian sentuh seseorang wanita walaupun hatinya. - (Imam syafie) Sesuatu yang benar Tetapi Bahaya iaitu pujian manusia. Ramai yang rosak akibat terlalu hanyut dengan pujian - (Imam syafie) "Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya,cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta" (Imam syafie) Ilmu itu adalah Cahaya dan Cahaya itu tidak akan menyimbah di Hati orang-orang yang melakukan Maksiat. - (Imam Syafi'e) Jika Ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepada ku dengan nilai harga sekeping roti, nescaya aku tidak akan membelinya. (Imam Syafi'e) Setiap manusia adalah dalam keadaan mati kecuali mereka yang mempunyai ilmu. Dan setiap yg mempunyai ilmu adalah dalam keadaan tidur, melainkan mereka yang mengamal kebaikan. Dan setiap yang mengamal kebaikan adalah dalam keadaan tertipu, kecuali yang ikhlas. Dan mereka yang ikhlas sering dalam keadaan risau (ditakuti jika amalannya tidak diterima) (Imam Syafi'e) 


IJAZAH DARI SYAIHONA KH. MAIMUN ZUBAIR. Agar rizqi kita banyak lagi barokah, selalu melimpah bagai hujan deras..!


muktamar-ppp
Kemiskinan jika tidak memiliki iman yang kuat bisa mendekatkan kepada kekufuran, maka kita memerlukan sebuah wirid atau amalan yang di berikan oleh para masyayih atau guru guru kita, dengan barokah do a dari beliau semoga apa yang kita amalkan dari beliau  lekas mendapat jawaban atau ijabah dari alloh.
Namun istiqomah selalu di butuhkan untuk sebuah kesuksesan atau keberhasilan.
inilah. ijazah dari< syaikhina KH. Maimun Zubair, mempermudah dapat rizqi. Yang banyak dan barokah> yang bersedia silahkan tulis di komentar anda :” Qobiltu Atau saya terima ijazah ini”.
Bacalah ( يالطيف  – Ya Lathif) sebanyak
129x setelah sholat fardu.
kemudian bacalah ayat di bawah sebagai doa. 1x.
ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ -” ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻄﻴﻒ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻳﺮﺯﻕ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﻮﻱ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ” اللهم اني أسألك رزقا حلالا كثيرا طيبا
Allahu latifun bi’ibaadihi yarzuqu maiyasya’ wahuwal qowiyul Aziz…Allahumma inni as’aluka rizqon halalan katsiron thoiyiban.
Artinya:”Alloh sangat lembut kasihsayangnya pada hamba hambanya, dan memberikan rizqi pada orang yang di kehendaki, Dan Dial ah alloh yang maha kuat lagi maha perkasa.. Ya alloh sesungguhnya aku memohon kepada MU Rizqi yang halal yang banyak dan baik”.
Semoga rizqi kita di beri oleh alloh Rizqi yang banyak dan barokah dan melimpah seperti hujan dengan mengamalkanya..amin

Amalan Sukses, Banyak Harta dan Anak, Kaya Raya Dari Syaikhona Khalil Bangkalan


12821521_611304552349873_4686300794132023011_n-480x445

Amalan Sukses, Banyak Harta dan Anak, Kaya Raya Dari Syaikhona Khalil Bangkalan

Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang pertama:
“Sampeyan ada keperluan apa?”
“Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus,” ucap tamu pertama.
Beberapa saat Kyai Kholil menjawab, “Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar,” pesan kyai mantap.
Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua:
“Sampeyan ada keperluan apa?”
“Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan,” kata tamu kedua.
Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab, “Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar,” tandas kyai.
Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya, “Sampeyan ada keperluan apa?”
“Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya, ” ucap tamu yang ketiga, dengan raut muka serius.
“Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar,” pesan kyai kepada tamu yang terakhir.
Berapa murid Kyai Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.
Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu. Lalu, Kyai Kholil membacakan al-Qur’an :
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا {11
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا {12
Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.

Ijasah syaikhona kyai mahrus ali lirboyo, Kalau ingin hidup sukses… ingin hidup mulia..!!!.

Ijasah syaikhona kyai mahrus ali lirboyo, Kalau ingin hidup sukses… ingin hidup mulia..!!!.



Tujuh (7) Mawaidh (Petuah) Syaikhona Kyai Makhrus Ali Lirboyo
=================================
1-Orang ingin berhasil (sukses) itu kuncinya menghormati istri
2- Apabila ingin hidup mulia hormati orang tua, khususnya ibu.
3- Ingat jikalau anda menjadi pemimpin, tolong hindari 2 masalah. Pertama, janganlah mata duitan. Ke-2, jangan sampai tergoda wanita. Bila mampu bertahan dari dua hal ini insyaallah selamat.
4-Nabi Sulaiman itu berhasil dalam 90 tahun dan Nabi Nuh berhasil dalam waktu 900 tahun. Tapi di dalam Al Quran yang dinamakan ulul ‘azmi yaitu Nabi Nuh. Ini menunjukkan
perjuangan di lihat dari kesusahan, bukan dari jumlah murid.
5- Orang yg memiliki ilmu sambil di riyadlohi dengan yang tak di riyadlohi itu akhirnya beda. Riyadloh yang paling penting yaitu istiqamah
6- Aku dulu ketika di pondok tidak pernah membayangkan akan menjadi kyai, tidak pernah membayangkan bakal jadi orang kaya. Akhirnya jadi orang mulia seperti ini aku takut. Jangan-jangan bagian aku ini saja, diakhirat tidak dapat bagian apa-apa
7- Ngajarlah ngaji !!! Apabila kelak anda tidak bisa makan, kethoken kupingku(potong telingaku).
Fa amruna Sami’naa Wa atho’na Yaaa Kyai .
Ya Allah mugi keparing saget Ngestoake Dawuh Mbah Kyai ,Tumuju dumateng Karidhoan Pangersa Tuan …Amiiin

Kewalian Mbah Dullah Salam Guru Gus Dur dari Kajen Pati




Kewalian Mbah Dullah Salam Guru Gus Dur dari Kajen Pati




Kewalian Mbah Dullah Salam , KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW.mbah dullah salam
Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.
Berperawakan gagah. Hidung mancung. Mata menyorot tajam. Kumis dan jenggotnya yang putih perak, menambah wibawanya. Hampir selalu tampil dengan pakaian putih-putih bersih, menyempurnakan kebersihan raut mukanya yang sedap dipandang.
Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.
Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik.
Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.
Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang.
Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.
Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah Salam, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.
Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.
Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah Salam. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.
Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah Salam adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah Salam termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?
Ya, mbah Dullah Salam adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah Salam tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).
Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah Salam adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa– merupakan salah satu pantangan utama.
Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.
Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah Salam minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.
Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah Salam ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah Salam , yang sebenar-benar kaya.
Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah Salam , seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah Salam tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.
Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”
Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.
Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.
Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.
Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.
Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.
Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila dilucuti tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.
Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meningg4l; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!
Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid ( Gus Dur) dll.
Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meningg4l. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.
25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.

Jumat, 03 Maret 2017

Seorang Wanita pun Bisa Memberi Nasihat


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Daary radhiallahu ‘anhu,
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)
    Memang benar, sebuah nasihat akan banyak membawa manfaat apabila nasihat tersebut bersumber dari ilmu yang terambil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, sebuah nasihat yang tidak berlandaskan ilmu, justru akan membawa malapetaka dan kehancuran, karena pada hakikatnya hal itu bukanlah nasihat, melainkan bisikan-bisikan dan was-was setan. Masalahnya, apakah sebuah nasihat hanya boleh dilakukan oleh kaum laki-laki saja dan tidak mungkin dilakukan oleh kaum wanita?
    Kisah berikut ini menunjukkan, bahwa kaum Hawa pun dapat memberikan andil dalam memberikan nasihat dan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan mereka. Semoga bermanfaat. Allahul-Muwaffiq.
    Alkisah
    Imam Malik rahimahullah meriwayatkan sebuah kisah dalam kitabal-Muwaththa, dari Yahya bin Sa’id dari al-Qasim bin Muhammad, bahwa dia berkata, “Salah satu istriku meninggal dunia, lalu Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi mendatangiku untuk bertakziah atas (kematian) istriku, lalu beliau mengatakan,
    ‘Sesungguhnya, dahulu di zaman Bani Israil ada seorang laki-laki yang faqihalimabid, dan mujtahid. Dia memiliki seorang istri yang sangat ia kagumi dan cintai. Lalu meninggallah sang istri tersebut, sehingga membuat hatinya sangat sedih. Dia merasa sangat berat hati menerima kenyataan tersebut, sampai-sampai ia mengunci pintu, mengurung diri di dalam rumah, dan memutus segala hubungan dengan manusia, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat bertemu dengannya.
    Lalu ada seorang wanita cerdik yang mendengar berita tersebut, maka dia pun datang ke rumah Sang Alim seraya mengatakan kepada orang yang berada di sana,
    “Sungguh, saya sangat memerlukan fatwa darinya dan saya tidak ingin mengutarakan permasalahan saya, melainkan harus bertemu langsung dengannya.”
    Akan tetapi, semua orang tidak ada yang menghiraukannya. Walau demikian, ia tetap berdiri di depan pintu menunggu keluarnya Sang Alim. Dia berujar, ‘Sungguh, saya sangat ingin mendengarkan fatwanya. Lalu, akhirnya ada salah seorang menyeru,
    ‘(Wahai Sang Alim) sungguh di sini ada seorang wanita yang sangat menginginkan fatwamu.’
    Dan wanita itu menambahkan, ‘Dan aku tidak ingin mengutarakannya melainkan harus bertemu langsung dengannya tanpa ada perantara.’ Akan tetapi, orang-orang pun tetap tidak menghiraukannya. Meski demikian, dia tetap berdiri di depan pintu dan tidak mau beranjak.
    Akhirnya, Sang Alim menjawab, ‘Izinkanlah dia masuk.’
    Lalu, wanita itu pun masuk dan mengatakan,
    “Sungguh, aku datang kepadamu karena suatu pemasalahan.’
    Sang Alim menjawab, “Apakah pemasalahanmu?’
    Wanita memaparkan, “Sungguh, aku telah meminjam perhiasan kepada salah satu tetanggaku dan aku selalu memakainya sampai beberapa waktu lamanya, lalu suatu ketika mereka mengutus seseorang kepadaku untuk mengambil kembali barang itu kepadanya?’
    Maka, Sang Alim menjawab, ‘Iya, demi Allah, engkau harus memberikan kepada mereka.’
    Lalu sang wanita menyangkal, ‘Tetapi, aku telah memakainya sejak lama sekali.’
    Sang Alim menjawab, ‘Tetapi mereka lebih berhak untuk mengambil kembali barang yang telah dipinjamkan kepadamu sekalipun telah sejak lama.’
    Lalu, wanita itu mengatakan, ‘Wahai Sang Alim, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu. Mengapakah engkau juga merasa berat hati untuk mengembalikan sesuatu yang telah dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengambil kembali titipan-Nya, sedang Dia lebih berhak untuk mengambilnya darimu?’
    Maka, dengan ucapan itu tersadarlah Sang Alim atas peristiwa yang sedang menimpanya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan perkataan si wanita tersebut dapat bermanfaat dan menggugah hatinya.
    Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththadalam kitab al-Jana’iz Bab Jami’ul-Hasabah fil-Mushibah (163).
    Syaikh Syu’aib al-Arna’uth dalam tahqiq beliau terhadap kitabJami’ul-Ushul (6/339) berkata, “Kisah di atas sampai kepada Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dengan sanad shahih.”
    Ibrah
    Musibah adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai pengukur keimanan hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَا أَخْبَارِكُمْ
    Dan sesungguhnya, Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Qs. Muhammad: 31).
    Kesabaran sangat dibutuhkan tatkala kita dilanda musibah. Kewajiban setiap muslim ketika mendapat musibah ialah mengharap kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala pahala dan ganti yang lebih baik. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammengajarkan kepada kita membaca doa tatkala tertimpa suatu musibah. Beliau mengatakan,
    مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِصِيْبَتِي وَأَخْلِفُ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
    Tidaklah seorang muslim yang tertimpa suatu musibah lalu membaca sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah (yaitu), ‘Sesungguhnya kami milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada-Nya jualah kita akan dikembalikan. Ya Allah, berilah pahala pada musibah yang menimpaku dan berilah ganti yang lebih baik darinya’ melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya ganti yang lebih baik daripada yang sebelumnya.’” (HR. Musim, 4/475, at-Tirmidzi, 11/417, Ahmad, 33/82).
    Dengan demikian, sungguh sangatlah indah perkara yang terjadi pada diri seorang muslim. Karena semua perkara yang menimpanya –berupa kenikmatan maupun kesulitan, kelapangan maupun musibah— semuanya adalah baik baginya, sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan dalam sabdanya,
    عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ لِلْمُؤْمِنِ إِنَّ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
    Sungguh mengherankan perkara (urusan) orang muslim, semua perkara (urusan)nya baik dan hal itu tidaklah terjadi kecuali pada diri seorang muslim. Apabila diberi kenikmatan ia bersyukur maka hal itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesulitan ia bersabar maka hal itu pun baik baginya.” (HR. Muslim. 14/280).
    Beratnya cobaan sering menjadikan manusia lupa dengan takdir AllahSubhanahu wa Ta’ala. Kita semua adalah milik AllahSubhanahu wa Ta’aladengan kepada-Nya pulalah kita akan dikembalikan. Namun, kebanyakan manusia tidak menyadari hal ini, sehingga mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syariat. Mereka berlarut-larut dalam kesedihan, sehingga melalaikan dirinya sendiri. Bahkan, terkadang mereka berteriak-teriak histeris, memukul-mukul wajah, merobek-robek baju, dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang dilarang oleh syariat, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
    Bukan termasuk golongan kami seorang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan-seruan jahiliah.” (HR. Bukhari, 5/41, at-Tirmidzi, 4/119, an-Nasa’i, 6/408).
    Bersedih adalah suatu kewajaran terutama karena ditinggal oleh orang-orenga yang sangat dicintai. Akan tetapi, janganlah kesedihan tersebut melampaui batas dari yang dibolehkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعَ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا
    Mata boleh menangis, hati boleh bersedih, tetapi kita tidak berkata-kata kecuali hanya (dengan perkataan) yang diridhai oleh Rabb (Tuhan –ed.) kita.”(HR. al-Bukhari: 5/57).
    Memang, setang sangatlah lihai dalam mencari celah untuk menjerumuskan anak Adam. Dari sinilah pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
    Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. adz-Dzariyat: 55).
    Hanya saja, cara kita memberikan nasihat harus benar-benar diperhatikan. Cara menasihati seorang waliyul-amri (penguasa) berbeda dengan cara menasihati rakyat. Menasihati orang tua berbeda dengan cara menasihati anak kita sendiri. Demikian pula, cara menasihati seorang yang alim yang memiliki pengaruh dan ucapan yang didengar oleh masyarakat hendaklah berbeda dengan cara kita menasihati seorang yang awam. Hendaklah menasihati dengan cara yang lembut, dengan kata-kata yang halus, dan tidak dilakukan di depan khalayak ramai, sebagaimana yang telah dilakukan wanita tersebut. Mudah-mudahan dengan itu mereka akan tersadar dan kembali pada jalan yang benar. Karena, seorang alim bukanlah orang yang ma’shum yang terbebas dari kesalahan. Mereka pun manusia biasa yang banyak melakukan kesalahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاؤٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ
    Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat darinya.” (HR. at-Tirmidzi, 9/59, Ibnu Majah, 12/302, Ahmad, 26/123).
    Mutiara Kisah
    Beberapa pejalaran penting yang dapat kita rangkum dari kisah di atas adalah:
    1.      Terkadang seorang ahlul ilmi dapat lupa dan lalai dari ilmu yang selama ini ia ajarkan. Sebagaimana kisah Sang Alim yangfaqih di atas, dia telah lupa terhadap apa yang selama ini selalu dia ajarkan tentang wajibnya seorang untuk tetap bersabar di kala terkena musibah.
    2.      Kewajiban bagi para ahlu ra’yi dan yang siapa saja yang memiliki pemahaman, hendaklah mengingatkan saudaranya yang lain dari hal-hal yang terkadang terlalaikan darinya. Dan hal ini tidak terbatas hanya dilakukan oleh kaum laki-laki saja, melainkan kaum wanita pula apabila memang memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Tentunya hal itu dilakukan apabila aman dari fitnah dan tidak melanggar larangan dan keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang telah dilakukan oleh wanita dalam kisah di atas yang dapat menyadarkan kembali seorang alim yang tengah lalai dari peristiwa besar yang menimpanya.
    3.      Ilmu dan pemahaman adalah titik temu yang menjadi persamaan antara laki-laki dan wanita, karena ilmu bukanlah hak yang dimonopoli oleh kaum laki-laki saja. Kaum wanita pun berhak mengenyam ilmu dan pemahaman. Bahkan, kejadian-kejadian yang terjadi pada diri seorang wanita menuntut mereka untuk lebih mengilmui hukum-hukum syariat.Thaharoh (bersuci), mendidik anak, dan lain-lain adalah permasalahan yang sangat membutuhkan ilmu dan pemahaman yang benar.
    4.      Pentingnya membuat suatu permisalan dalam menjelaskan suatu permasalahan, karena sebuah contoh dapat menggambarkan suatu masalah dengan lebih jelas. Dan ini pulalah metode al-Qur’an dalam menjelaskan sebuah permasalahan. Perhatikanlah ayat AllahSubhanahu wa Ta’ala yang menjelaskan tentang kalimat tauhid dan kalimat-kalimat kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ {24} تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ {25} وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ اْلأَرْضِ مَالَهَا مِن قَرَارٍ
    Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Qs. Ibrahim: 24-26).
    5.      Disenangi menghibur manusia dengan menyebutkan kabar-kabar orang-orang terdahulu dan kisah-kisah berharga yang sarat dengan pelajaran. Terlebih apabila kisah-kisah tersebut bersesuaian dengan keadaan orang yang sedang diberi nasihat, karena metode yang demikian akan lebih menggugah hatinya dan menyadarkan dari kelalaiannya sehingga ia dapat terhibur dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

    Cerita Keluarga Harmonis Ali Dan Fatimah


    Dalam membangun kehidupan rumah tangga melalui perkawinan, sering kali pernikahan tersebut disertai dengan do’a perkawinan yang mengutip do’anya Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra putri Rasulullah saw. Karena kehidupan rumah tangga beliau sangatlah harmonis dan menjadi suri tauladan bagi generasi Islami.
    Keluarga yang sakinah mawadah warahmah adalah keluarga yang taat syariah. Keluarga yang taat syariah senantiasa diliputi dengan ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang sudah pasti akan diliputi keharmonisan dan jauh dari konflik. Segala persoalan dalam rumah tangga diselesaikan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah Swt. dan bukan dengan jalan emosional, keputusasaan, dan maunya menang sendiri. Pertanyaannya, adakah keluarga semacam itu?
    Ada, dan tidak lain adalah keluarga Rasulullah Saw. Tanpa mengurangi rasa kagum pada cara Rasul memimpin istri dan anak-anaknya, penulis bermaksud mengangkat profil rumah tangga putri beliau, yaitu Fatimah Az-Sahra dan Ali bin Abi Thalib. Ya, keluarga mereka juga patut menjadi cermin keluarga harmonis yang selalu diliputi kebahagiaan dan kedamaian.
    Fatimah yang Giat Beribadah
    Fathimah adalah putri keempat Rasulullah Saw. dan Khadijah Al-Kubra. Dalam kehidupan berumah tangga, ia adalah seorang figur dan dalam hal beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai teladan. Setelah selesai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Fatimah akan dengan penuh khusyuk dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.
    Imam Shadiq meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali berkata, “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang lain dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa kau tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana kau mendoakan orang lain?’ ‘Tetangga harus didahulukan, wahai putraku,’ jawabnya singkat.”
    Saling Bahu Menjalankan Tugas Suami Istri
    Fatimah dan Ali senantiasa saling bahu dalam menegakkan tiang kehidupan rumah tangga yang selalu dilandaskan pada hubungan cinta kasih, tolong menolong, kerja sama, dan saling menghormati. Pada suatu hari, Fatimah jatuh sakit. Ali pun sedih. Ali menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan Fatimah dan menggantikan tugasnya selama sakit.
    “Beristirahatlah agar sakitmu segera hilang,” katanya kepada Fatimah.
    “Aku telah cukup beristirahat, sampai-sampai aku malu apabila melihatmu mengerjakan tugas-tugas seorang ibu,” jawab Fatimah dengan suara lirih.
    “Jangan pikirkan itu. Bagiku semua itu sangat menyenangkan. Lagipula, setelah engkau sembuh nanti, semua tugas, engkaulah yang akan mengerjakannya,” ujar Ali.
    “Wahai istriku, adakah engkau menginginkan sesuatu?” tanya Imam Ali dengan tiba-tiba.
    Fatimah terdiam sebentar, kemudian berkata, “Sesungguhnya sudah beberapa hari ini aku menginginkan buah delima.”
    “Baiklah, aku akan membawakannya untukmu dengan rezeki yang diberikan Allah kepadaku,” kata Ali sambil bersiap keluar rumah. Ali langsung menuju pasar meskipun dengan uang pas-pasan.
    Kisah tersebut di atas sudah sepatutnya dapat menginspirasi suami istri untuk saling menghargai. Meski berkedudukan sebagai kepala rumah tangga, Ali tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh kaum wanita. Ini merupakan tanda bukti kecintaan Ali pada istri yang sangat disayanginya. Sebaliknya, Fatimah juga selalu memberi dukungan penuh terhadap suaminya ketika sedang menjalankan tugas negara atau segala hal yang berhubungan dengan perjuangan menegakkan ajaran Islam. Selain itu, Fatimah juga dikenal sebagai pribadi yang mau mengesampingkan kepentingan dirinya demi perjuangan Islam serta semua ajarannya.
    Saat Menghadapi Krisis Ekonomi
    Saat menjalani krisis ekonomi, pernah tiga hari Fatimah tidak makan dan ketika Ali melihatnya pucat, ia berkata, “Ada apa denganmu wahai Fatimah?”
    Fatimah menjawab, “Selama tiga hari kami tidak ada (makan) apa-apa di rumah”.
    Ali berkata, “Kenapa kamu tidak memberitahu aku?”
    Fatimah menjawab, “Pada malam pertama, ayahku Rasulullah Saw. berkata kepadaku: ‘Wahai Fatimah, jika Ali datang membawa sesuatu makanlah, jika tidak jangan kamu minta.’”
    Rupanya Fatimah mengerti benar posisi Ali pada saat itu. Kesibukan Ali dalam berdakwah dan berjihad membuat Fatimah tidak mau mengusiknya dengan masalah ekonomi rumah tangga agar konsentrasi suaminya tidak terpecah. Pengertian dan kesabaran Fatimah bukanlah hal yang tanpa pemahaman: mana yang termasuk kesesangsaraan dan mana yang termasuk amalan baik. Menahan lapar apabila dikerjakan karena Allah Swt. dan diniatkan agar suami tidak terbebani akan menjadi amalan yang mendapatkan pahala besar dari-Nya.
    Isyarat penting dalam kisah tersebut adalah bahwa persoalan ekonomi dan tekanan kebutuhan rumah tangga tidak harus menjadi hal yang menimbulkan konflik. Segala persoalan rumah tangga apabila diselesaikan dengan penuh sakinah mawadah warahmah (ketenangan, kebahagiaan, dan kasih sayang), isnya Allah akan membuat hubungan suami istri tetap harmonis.
    Pada suatu kesempatan, Ali bertanya kepada Fatimah mengenai boleh tidaknya ia mendapatkan pembantu dari Rasulullah Saw. Ketika Fatimah datang ke rumah ayahnya, banyak tamu yang datang menemui beliau sehingga Fatimah tidak bisa mengutarakan maksudnya. Keesokan harinya, Rasul datang ke rumah Ali dan Fatimah. Ketika Rasulullah Saw. bertanya kepada Fatimah tentang maksud kedatangannya kemarin, Fatimah diam saja. Karenanya, Ali pun menceritakan hal yang dimaksud namun Rasulullah Saw. tidak mengabulkan keinginan mereka untuk memiliki pembantu tersebut. Rasul Saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, tunaikanlah tugasmu terhadap-Nya, lakukan pekerjaan rumahmu seperti biasa, ucapkanlah subhanallah, alhamdulillah dan Allahu Akbar, ucapan ini akan lebih membantu kalian daripada seorang budak.”
    Ketika Ali dan Fatimah Berselisih
    Kehidupan harmonis Ali dan Fatimah bukannya tanpa mengalami perselisihan. Suatu ketika, Ali pernah berbuat kasar kepada Fatimah. Fatimah kemudian mengancam Ali, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Saw!” Fatimah pun pergi kepada Nabi Saw. dan Ali mengikutinya.
    Sesampainya di hadapan Rasul, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali. Nabi Saw. pun menyabarkannya, “Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga, dan pahami bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang.”
    Ali berkata, “Kalau begitu, aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan.”
    Fatimah pun berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak kamu sukai.”
    Disebutkan juga dalam riwayat lain bahwa pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu Rasulullah Saw. datang dan Ali menyediakan tempat untuk Rasulullah Saw. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi Saw. Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah Saw. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah Saw., “Tadi engkau masuk dalam keadaan demikian (murung), lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu.” Ia menjawab, “Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?”
    Istri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra dari seorang suami. Namun bagi Fatimah, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah Swt. untuk mencari kasih-Nya dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Sepanjang kepergian Ali, hanya anak-anak yang masih kecil yang menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya (Hassan, Hussein, Muhsin, Zainab, dan Umi Kalsum) diusahakannya sendiri. Untuk mendapatkan air, dia berjalan jauh dan menimba dari sumur yang 40 hasta dalamnya di tengah sinar matahari padang pasir yang terik. Kadangkala harus menahan lapar sepanjang hari. Bahkan ia sering juga berpuasa yang membuat tubuhnya kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
    Pernah suatu hari, ketika ia sedang asyik bekerja menggiling gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Fatimah yang amat keletihan ketika itu meceritakan problem rumah tangganya. Ia bercerita betapa dirinya telah bekerja keras, menyaring tepung, mengangkat air, memasak, serta melayani kebutuhan anak-anak. Ia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Ali agar Ali mencarikannya seorang pembantu.
    Rasulullah Saw. merasa kasihan terhadap permasalahan rumah tangga anakanya itu. Namun beliau sangat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk memudahkannya di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhaan-Nya adalah orang yang akan mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah sambil memberi harapan dengan janji-janji Allah. Beliau mengajarkan zikir, tahmid, dan takbir yang apabila diamalkan, segala permasalahan dan beban hidup akan terasa ringan. Ketaatannya kepada Ali akan menyebabkan Allah Swt. mengangkat derajatnya. Sejak saat itu, Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarganya. Ia juga tidak meminta sesuatu yang dapat menyusahkan suaminya.
    Dalam kondisi itu, kemiskinan tidak menghilangkan semangat Fatimah untuk selalu bersedekah. Ia tidak sanggup kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Ia tidak rela hidup senang di kala orang lain menderita. Bahkan ia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberi sesuatu, meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.
    Jangan Segan Meminta Maaf
    Pernah suatu hari Fatimah menyebabkan Ali kesal. Menyadari kesalahannya, Fatimah segera meminta maaf berulang kali. Fatimah terngiang nasihat Rasul, “Wahai Fatimah, kalaulah di kala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menshalatkan jenazahmu.” Ketika dilihatnya air muka suaminya tidak juga berubah, ia pun berlari-lari seperti anak kecil mengelilingi Ali dan meminta dimaafkan. Melihat aksi istrinya tersebut, Ali tersenyumlah dan lantas memaafkan istrinya itu.
    Begitulah rumah tangga Fatimah dan Ali. Sungguh sebuah potret rumah tanggal sakinah, mawadah, warahmah yang patut ditiru.